Senin, 16 Juli 2012

PERHITUNGAN DENYUT NADI



DENYUT
Denyut merupakan pemeriksaan pada pembuluh nadi atau arteri. Ukuran kecepatannya diukur pada beberapa titik denyut misalnya denyut arteri radialis pada pergelangan tangan, arteri brachialis pada lengan atas, arteri karotis pada leher, arteri poplitea pada belakang lutut, arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis posterior pada kaki. Pemeriksaan denyut dapat dilakukan dengan bantuan stetoskop.

Secara umum denyut nadi maksimum orang sehat saat berolah raga adalah 80% x (220-usia) untuk kebutuhan fitness.Lebih akurat, Sally Edward memberikan rumusan perhitungan denyut nadi maksimum 210-(0,5xumur)-(0,05xberat badan(dalam pound))+4 untuk pria, sedangkan untuk wanita adalah 210-(0,5xumur)-(0,05xberat badan(dalam pound)). Catatan: 1 kg = 2,2 pound.
Dalam olahraga, diberikan 3 (tiga) tingkatan kebutuhanYaitu :
Untuk sehat: 50-70% denyut nadi maksimum
Untuk kebugaran (fitness): 70-80% denyut nadi maksimum
Untuk atlit (performance): 80-100% denyut nadi maksimum.

Denyut jantung yang normal yakni 60-100 kali setiap menit, sedang denyut jantung lambat kurang dari 60 kali per menit dan yang cepat lebih dari 100 kali per menit.

NADI
Nadi adalah denyut nadi yang teraba pada dinding pembuluh darah arteri yang berdasarkan systol dan gystole dari jantung.
Jumlah denyut nadi yang normal berdasarkan usia seseorang adalah:

1. Bayi baru lahir             : 140 kali per menit
2. Di bawah umur 1 bulan : 110 kali per menit
3. Umur 1 - 6 bulan          :130 kali per menit
4. Umur 6 - 12 bulan         : 115 kali per menit
5. Umur 1 - 2 tahun          : 110 kali per menit
6. Umur 2 - 6 tahun          :105 kali per menit
7. Umur 6 - 10 tahun         : 95 kali per menit
8. Umur 10 - 14 tahun        : 85 kali per menit
9. Umur 14 - 18 tahun        : 82 kali per menit
10. Umur di atas 18 tahun  : 60 - 100 kali per menit
11. Usia Lanjut                  : 60 -70 kali per menit

Mengetahui denyut nadi merupakan dasar untuk melakukan latihan fisik yang benar dan terukur. "Dari denyut nadi, dapat diketahui intensitas atau seberapa keras seseorang melakukan latihan. Atau seberapa keras jantungnya bekerja."secara umum, yang perlu Anda perhatikan dalam olahraga adalah frekuensi dan intensitas. Frekuensi adalah berapa kali seminggu seseorang melakukan olahraga. Sedangkan intensitas dilihat dari denyut nadi.

Sebenarnya ada banyak cara untuk mengukur denyut nadi. Salah satu metode yang di-anggap efektif untuk menentukan denyut nadi adalah Formula Karvonen. Menurut metode ini, denyut nadi dapat diukur melalui pembuluh arteri radialis yang ada di pergelangan tangan atau pembuluh arteri carotis yang ada di leher. Tetapi, yang umum digunakan adalah melalui pergelangan tangan.

Pertama-tama yang perlu Anda ketahui adalah denyut nadi normal Anda. Hasilnya dapat diperoleh dengan menghitung denyut nadi saat bangun pagi, sebelum melakukan aktivitas apapun. Hasil ini juga sering disebut denyut nadi istirahat (resting heart rate). Agar diperoleh hasil yang akurat, Sebaiknya pengukuran dilakukan tiga hari berturut-turut. Kemudian, ambil rata-ratanya.

"Kalau denyutnya di atas 100, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Mungkin Anda sedang demam, sakit tenggorokan, akan haid, atau ada masalah lain." Sebelum berolahraga, Anda Sebaiknya juga mengukur denyut nadi. Bila di atas 100, Sebaiknya Anda tidak berolahraga dulu. Kemudian, di tengah latihan inti, diukur lagi. Kalau melebihi zone latihan (li-hat boks), Sebaiknya Anda mengurangi intensitas latihan. Misalnya, mengurangi kecepatan lari. "Sedangkan bila denyutnya di bawah zone latihan, berarti latihan yang Anda lakukan sia-sia. Anda cuma dapat capeknya." Namun, pengukuran saat latihan ini hanya dapat dilakukan pada olahraga

CARA MENGHITUNG

Tempel dan tekankan (Jangan terlalu keras) tiga jari (telunjuk, tengah, manis) salah satu tangan pada pergelangan tagan yang lain. Temukan denyut nadi anda. Setelah itu, barulah Anda mulai menghitung.

Hitunglah denyut nadi Selama 15 detik. Kemudian, hasilnya dikalikan 4.
ANGKA-ANGKA
Denyut nadi normal : 60 - 100/menit
Denyut nadi maksimal : 220
Umur Zone latihan (training zone; yaitu tingkat intensitas dimana Anda bisa berolahraga): 70% - 85% dari denyut nadi maksimal

Cara menghitung denyut nadi seseorang adalah dengan cara letakkan jari pada pergelangan tangan (jangan menggunakan ibu jari), atau dapat juga meraba daerah leher disamping tenggorokan, atau dapat juga dengan secara langsung menempelkan telinga pada dada orang yang akan diperiksa untuk mendengar detak jantungnya.

Denyut nadi pada orang yang sedang berisitirahat adalah sekita 60 – 80 permenit untuk orang dewasa, 80 – 100 permenit untuk anak-anak, dan 100 – 140 permenit pada bayi. Namun denyut nadi bisa lebih cepat jika seseorang dalam keadaan ketakutan, habis berolah raga, atau sakit panas. Umumnya denyut nadi akan meningkat sekitar 20 kali permenit untuk setiap satu derajat celcius penderita sakit panas.

Sebagai catatan, denyut nadi yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan dapat berarti gangguan pada jantung

Jika jumlah denyut nadi di bawah kondisi normal, maka disebut pradicardi.
Jika jumlah denyut nadi di atas kondisi normal, maka disebut tachicardi.

Tujuan mengetahui jumlah denyut nadi seseorang adalah:
Untuk mengetahui kerja jantung
Untuk menentukan diagnosa
Untuk segera mengetahui adanya kelainan-kelainan pada seseorang

Tempat-tempat menghitung denyut nadi adalah:
- Ateri radalis : Pada pergelangan tangan
- Arteri temporalis : Pada tulang pelipis
- Arteri caratis : Pada leher
- Arteri femoralis : Pada lipatan paha
- Arteri dorsalis pedis : Pada punggung kaki
- Arteri politela : pada lipatan lutut
- Arteri bracialis : Pada lipatan siku
- Ictus cordis : Pada dinding iga, 5 – 7

DENYUT JANTUNG
Jantung merupakan salah satu organ tubuh kita yang “tidak bisa” kita kendalikan, berdetak sejak sebelum kita lahir. Seringkali merupakan cerminan suasana hati, lebih cepat saat cemas, atau saat sangat bahagia. Denyut jantung juga merupakan gambaran kebugaran kita. Saat kita bergerak, otot yang bekerja memerlukan pasokan oksigen untuk mengolah energi yang didapat dari makanan. Udara yang dihirup oleh paru, dihantarkan darah menuju jantung, kemudian oleh jantung dipompakan keseluruh tubuh, terutama pada otot yang bekerja.Otot, terutama anggota gerak tubuh, bisa kita kendalikan. Makin banyak otot yang bekerja, makin banyak kebutuhan oksigen, makin besar kekerapan denyut jantungkita perlukan. Jadi, secara tak langsung kita dapat mengendalikan denyut jantung. Sisi baiknya, selain dipergunakan untuk petanda kebugaran, denyut nadi bisa menjadi panduan dosis olahraga.

Bagaimana menghitung denyut jantung?Tak perlu stetoskop untuk mengukur denyut jantung, cukup kita hitung denyut nadi pada pergelangan tangan atau arteri di leher, menggunakan jari tangan, dibantu detikan pada arloji kita.Menghitung nadi pergelangan tangan dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada sisi luar tangan, arah terletak ibu jari. Cari urat pergelangan tangan, kemudian geser sedikit ke arah luar (seperti foto ilustrasi). Tekan ringan, karena bila terlalu kuat akan menghentikan aliran darah, sehingga denyut tak teraba.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FREKUENSI DENYUT JANTUNG:
Jenis kelamin,
Jenis aktifitas
Usia
Berat badan
Keadaan emosi atau psikis

Banyak hal yang kita ketahui, kita dapat Perhitungan Denyut Nadi, Jantung lanjutkan dengan menghitung Perhitungan Denyut Nadi, Jantung, Apakah anda sudah menghitungnya ?

Jumat, 29 Juni 2012

PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA dan KESEHATAN (seharusnya) DI SEKOLAH

Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (dikjasor), guru harus dapat membelajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan / olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur kerjasama, dan lain-lain) dari pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis semata, tetapi tujuan yang ingin dicapai bukan hanya perkembangan aspek jasmani tetapi juga aspek spiritual, emosional, mental, intelektual, dan sosial. Hal inilah yang membedakan dikjasor dengan pelajaran lain.
Dengan alokasi waktu 2 jam per minggu @ 40 menit pada jenjang SMP, diharapkan siswa akan merasa senang dan menjadikannya unforgetable experience. Bukan malah sebaliknya, dikjasor sebagai pelajaran “momok” bagi siswa dalam kelas yang heterogen (dalam kapasitas gender), apalagi sampai menimbulkan trauma dalam mengikuti pembelajaran. Melalui dikjasor diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan dan memeliharan kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia.

Bola voli merupakan salah satu yang terdapat pada kompetensi dasar (KD) permainan dan olahraga bola besar beregu, pada kenyataannya banyak siswa kelas VII belum bisa menguasai teknik bermain bola voli dengan baik. Salah satunya adalah teknik passing bawah. Dari pengalaman dilapangan, hampir 90% siswa kelas VII tidak menguasai dengan baik dikarenakan metode pembelajaran yang diberikan pada jenjang sbelumnya kurang menarik dan cenderung trauma karena dibayangi rasa takut, sakit saat melakukan pasing bawah dengan bola.
Wuest dan Bucher (1995), memberikan acuan strategi membelajarkan pendidikan jasmani sebagai berikut:
“ …..mengusahakan agar pendidikan jasmani merupakan kegiatan yang menyenangkan bagi siswa, diterima sebagai bagian yang terpadu dari pendidikan, dan secara umum memberi sumbangan terhadap perkembangan siswa, remaja, dan pemuda dalam mewujudkan tujuan pendidikan.”

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, strategi yang harus dilakukan oleh guru dikjasor dalam membelajarkan seyogyanya bertautan dengan tiga kata kunci yaitu : 1. Menyenangkan, 2. Diterima sebagai bagian yang terpadu dari pendidikan, dan 3. Memberi sumbangan terhadap terwujudnya tujuan pendidikan.
Maka guru dikjasor harus mampu membuat pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Untuk itu perlu adanya pendekatan, variasi maupun modifikasi dalam pembelajaran.
Sesuai dengan karakteristik siswa SMP, usia 12 – 16 tahun kebanyakan dari mereka cenderung masih suka bermain. Untuk itu guru harus mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif, disamping harus memahami dan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan siswa. Pada masa usia tersebut seluruh aspek perkembangan manusia baik itu kognitif, psikomotorik dan afektif mengalami perubahan. Perubahan yang paling mencolok adalah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologis.
Oleh karena itu sebelum proses pembelajaran berlangsung, sudah barang tentu seorang guru terlebih dahulu harus mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Hal ini adalah langkah penting dalam belajar. Tanpa persiapan, pembelajaran akan lambat dan bahkan bisa terhenti sama sekali. Namun, karena terlalu bernafsu untuk “menyelesaikan materi”, guru sering kali mengabaikan tahap persiapan ini sehingga mengganggu proses pembelajaran yang baik.
Persiapan pembelajaran itu seperti mempersiapkan tanah untuk ditanami benih. Jika kita melakukannya dengan benar, niscaya kita akan menciptakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan yang sehat. Pada saat guru melaksanakan proses pembelajaran di lapangan, yang perlu ditumbuhkan adalah adanya interaksi antar personal (siswa – guru, siswa – siswa) sehingga proses pembelajaran tidak hanya berlangsung pada seorang individual, tetapi juga pada sekelompok siswa melalui dinamika kelompok.
Begitu juga dengan yang ada dan terjadi saat ini, guru dalam melakukan evaluasinya cenderung hanya menilai hasilnya saja, misalnya berapa jauh siswa dapat melompat, berapa detik siswa berhasil memasuki garis finish dalam lari 100m dan sebagainya, yang semuanya itu cenderung mengukur hasil belajar siswa. Guru disamping menilai hasil, hendaknya juga menilai proses yang terjadi selama siswa mengikuti pembelajaran dan juga interaksi sosialnya yaitu hubungan antar siswa dengan siswa, guru dengan siswa, yang cenderung mengukur proses pembelajaran individu yang terlibat (perilaku siswa), yang cenderung bersifat manusiawi. Oleh karena itu, sudah semestinya evaluasi terhadap proses dan hasil dilakukan secara simultan dan hendaknya juga melibatkan siswa. Disamping itu, fenomena yang sering terjadi pada pembelajaran dikjasor selama ini adalah, anak sering dianggap sebagai “orang dewasa kecil” yang mampu melakukan kegiatan layaknya orang dewasa. Guru mengajarkan olahraga baku kepada anak yang notabene belum mampu melakukan aktifitas sebagaimana yang dilakukan oleh orang dewasa. Jadi dapat diramalkan bahwa tingkat keberhasilan siswa dalam menyelesaikan tugas pembelajaran tergolong rendah (Mutohir,2000).

Senin, 18 Juni 2012

SERTIFIKASI GURU (akhirnya hanya jadi) SEBUAH FENOMENA


Ada rasa geli saat gencar-gencarnya sertifikasi guru, mulai dari tahap persiapan portofolio sampai dengan pembuatan media, semua dikerjakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya (sangat jauh dari Proklamasi).
Waktu yang dipersiapkan seolah membuat teman-teman guru bekerja keras, memutar otak, banting tulang, pokok apalah namanya untuk membuat suatu “karya” yang akan dipersembahkan sebagai bahan portofolio. Sampai-sampai ada yang “sementara” mengabaikan anak & istri demi tuntasnya sebuah “tumpukan berkas” berisi dokumen “dadakan”....
Guru yang biasanya mengajar dengan biasa-biasa saja, mulai agak tidak biasa. Guru yang biasanya sudah mengajar tidak biasa, menjadi luarrrrrrrrrr biasa.......
Alhasil, penilaian portofoliopun dilaksanakan, ada yang lulus PF (PortoFolio), ada juga yang harus melalui diklat PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) dengan hasil akhir lulus. Yang tidak saya mengerti dan menjadi pertanyaan tanpa jawaban sampai sekarang adalah, “apa sih beda lulus PF dan lulus PLPG ?”.
Karena tampaknya tidak ada bedanya, yang membedakan hanya ketika lulus PF tanpa ada DIKLAT, tetapi yang harus PLPG negara “harus” mengeluarkan sejumlah dana (APBN) yang tidak sedikit untuk pelaksanaan pelatihan tersebut.
Bayangkan, selama 9 hari harus di inapkan di hotel yang lumayan bagus dengan fasilitas makan, belum lagi ditambah dengan honor para fasilitator yang tidak murah.
Ya sudahlah...itu urusan negara, mestinya juga sudah di anggarkan.
Tetapi yang menjadi masalah bukan hal diatas, tetapi bagaimana konsekuensi dan konsistensi para guru dengan adanya Sertifikasi Guru.
Karena Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita bahwa bangsa yang maju, modern, makmur, dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan praktik pendidikan yang bermutu.
Sementara itu, pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat.
Tujuan utama diterapkannya program sertifikasi guru, termasuk terhadap guru pendidikan jasmani, adalah meningkatkan kualitas guru sehingga kualitas pendidikan semakin meningkat. Faktor guru diyakini memegang peran yang sangat strategis dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang berkualitas berpengaruh besar terhadap efektivitas pembelajaran (Suherman, 2007; Rink,2002) dan pada gilirannya mempengaruhi prestasi anak didik (Siedentop & Tannehill, dalam Maksum;2008).
Melihat hal tersebut diatas, menjadi sangat-sangat miris dengan keberadaan para guru.....
Semoga ini menjadi satu titik tolak perubahan guru di indonesia.
Ada yang menyatakan bahwa guru jaman sekarang sudah tidak seperti guru jaman dulu, guru jaman dulu disegani muridnya, dihormati muridnya.
Sampai-sampai ada yang apabila gurunya datang, muridnya berebut untuk membawakan tas yang dibawa oleh guru (seperti para kyai yang disegani oleh para santrinya). Hal ini disebabkan karena guru jaman dulu lebih banyak tirakat demi kemajuan muridnya, dengan selalu bangun malam untuk berdoa pada Yang Maha Kuasa agar murid-muridnya diberikan kemudahan, kesuksesan dalam menuntut ilmu. Tetapi yang masih dilakukan oleh guru jaman sekarang sangat beda, yang menyamakan hanya bangun malam tetapi tidak untuk berdoa melainkan hanya untuk buang air kecil dan setelahnya kembali tidur...... Masya Allah......

Kamis, 14 Juni 2012

CARA MENGHILANGKAN PIKIRAN NEGATIF

Hal yang paling mengganggu dan memberi dampak negatif dalam kehidupan kita sebenarnya berasal dari pandangan buruk terhadap diri anda sendiri. Kadang kita terlalu keras menghukum dan merendahkan diri kita sendiri atas kejadian-kejadian buruk yang menimpa diri kita atau pun orang lain.

Berikut ada beberapa Tips menghilangkan sifat negatif tersebut :
1.HIDUP DI SAAT INI.
Memikirkan masa lalu atau masa depan adalah hal yang sering membuat kita cemas. Jarang sekali kita panik karena kejadian masa sekarang. Jika Anda menemukan pikiran anda terkukung dalam apa yang telah terjadi atau apa yang belum terjadi, ingatlah bahwa hanya masa kini yang dapat kita kontrol.
2.KATAKAN HAL POSITIF PADA DIRI SENDIRI
Katakan pada diri Anda bahwa Anda kuat, Anda mampu. Ucapkan hal tersebut terus-menerus, kapanpun. Terutama, mulailah hari dengan mengatakan hal positif tentang diri sendiri dan hari itu, tidak peduli jika hari itu Anda harus mengambil keputusan sulit ataupun Anda tidak mempercayai apa yang telah Anda katakan pada diri sendiri.
3.PERCAYA PADA KEKUATAN PIKIRAN POSITIF
Jika Anda berpikir positif, hal-hal positif akan datang dan kesulitan-kesulitan akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika Anda berpikiran negatif, hal-hal negatif akan menimpa Anda. Hal ini adalah hukum universal, seperti layaknya hukum gravitasi atau pertukaran energi. Tidak akan mudah untuk mengubah pola pikir Anda, namun usahanya sebanding dengan hasil yang bisa Anda petik.
4.JANGAN BERDIAM DIRI.
Telusuri apa yang membuat Anda berpikiran negatif, perbaiki, dan kembali maju. Jika hal tersebut tidak bisa diperbaiki lagi, berhenti mengeluh dan menyesal karena hal itu hanya akan menghabiskan waktu dan energi Anda, juga membuat Anda merasa tambah buruk. Terimalah apa yang telah terjadi, petik hikmah/pelajaran dari hal tersebut, dan kembali maju.
5.FOKUS PADA HAL-HAL POSITIF.
Ketika kita sedang sedang berpikiran negatif, seringkali kita lupa akan apa yang kita miliki dan lebih berfokus pada apa yang tidak kita miliki. Buatlah sebuah jurnal rasa syukur. Tidak masalah waktunya, tiap hari tulislah lima enam hal positif yang terjadi pada hari tersebut. Hal positif itu bisa berupa hal-hal besar ataupun sekadar hal-hal kecil seperti 'hari ini cerah' atau 'makan sore hari ini menakjubkan'. Selama Anda tetap konsisten melakukan kegiatan ini, hal ini mampu mengubah pemikiran negatif Anda menjadi suatu pemikiran positif. Dan ketika Anda mulai merasa berpikiran negatif, baca kembali jurnal tersebut.
6.BERGERAKLAH
Berolahraga melepaskan endorphin yang mampu membuat perasaaan Anda menjadi lebih baik. Apakah itu sekadar berjalan mengelelingi blok ataupun berlari sepuluh kilometer, aktifitas fisik akan membuat diri kita merasa lebih baik. Ketika Anda merasa down, aktifitas olahraga lima belas menit dapat membuat Anda merasa lebih baik.
7.HADAPI RASA TAKUTMU
Perasaan negatif muncul dari rasa takut, makin takut Anda akan hidup, makin banyak pikiran negatif dalam diri Anda. Jika Anda takut akan sesuatu, lakukan sesuatu itu. Rasa takut adalah bagian dari hidup namun kita memiliki pilihan untuk tidak membiarkan rasa takut menghentikan kita.
8.COBA HAL-HAL BARU
Mencoba hal-hal baru juga dapat meningkatkan rasa percaya diri. Dengan mengatakan "ya" pada kehidupan Anda, membuka lebih banyak kesempatan untuk bertumbuh. Jauhi pikiran 'ya, tapi...'. Pengalaman baru, kecil atau besar, membuat hidup terasa lebih menyenangkan dan berguna.
9.UBAH CARA PANDANG
Ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik, cari cara untuk melihat hal tersebut dari sudut pandang yang lebih positif. Dalam setiap tantangan terdapat keuntungan, dalam setiap keuntungan terdapat tantangan.

Kamis, 21 Juli 2011

PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, ATAU BERMAIN YA?

Pendahuluan
Pendidikan jasmani m
erupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan.Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Tujuan pendidikan jasmani bukan aktivitas jasmani itu sendiri, tetapi untuk mengembangkan potensi siswa melalu aktivitas jasmani.
Persepsi yang sempit dan keliru terhadap pendidikan jasmani akan mengakibatkan nilai-nilai luhur dan tujuan pendidikan yang terkandung di dalamnya tidak akan pernah tercapai. Orientasi pembelajaran harus disesuaikan, dengan perkembangan anak, isi dan urusan materi serta cara penyampaian harus disesuaikan sehingga menarik dan menyenangkan, sasaran pembelajaran ditujukan bukan hanya mengembangkan keterampilan olahraga, tetapi perkembangan pribadi anak seutuhnya. Konsep dasar pendidikan jasmani dan model pengajaran pendidikan jasmani yang efektif perlu dipahami bagi orang yang hendak mengajar pendidikan jasmani.
Pengertian pendidikan jasmani sering dikaburkan dengan konsep lain, dimana pendididkan jasmani disamakan dengan setiap usaha atau kegiatan yang mengarah pada pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building), kesegaran jasmani (physical fitness), kegiatan fisik (pysical activities), dan pengembangan keterampilan (skill development). Pengertian itu memberikan pandangan yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang sebenarnya. walaupun memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan tertentu, namun karena tidak dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan itu tidak mengandung unsur-unsur pedagogi.
Pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik secara terisolasi, akan tetapi harus berada dalam konteks pendidikan secara umum (general education). Tentunya proses tersebut dilakukan dengan sadar dan melibatkan interaksi sistematik antarpelakunya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

1. Pengertian Pendidikan Jasmani
Kata fisik atau jasmani (physical) menunjukkan pada tubuh atau badan (body). Kata fisik seringkali digunakan sebagai referensi dalam berbagai karakteristik jasmaniah, seperti kekuatan fisik (physical strenght), perkembangan fisik (physical development), kecakapan fisik (physical prowess), kesehatan fisik (physical health). dan penampilan fisik (physical appearance).
Kata fisik dibedakan dengan jiwa atau fikiran (mind). Oleh karena itu, jika kata pendidikan (education) ditambahkan dalam kata fisik, maka membentuk frase atau susunan kata pendidikan fisik atau pendidikan jasmani (physical education), yakni menunjukkan proses pendidikan tentang aktivitas-aktivitas yang mengembangkan dan memelihara tubuh manusia.
Nixon and Cozens (1963: 51) mengemukakan bahwa pendidikan jasmani didefinisikan sebagai fase dari seluruh proses pendidikan yang berhubungan dengan aktivitas dan respons otot yang giat dan berkaitan dengan perubahan yang dihasilkan individu dari respons tersebut.
Dauer dan Pangrazi (1989: 1) mengemukakan bahwa pendidikan jasmani adalah fase dari program pendidikan keseluruhan yang memberikan kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak, untuk pertumbuhan dan perkembangan secara utuh untuk tiap anak. Pendidikan jasmani didefinisikan sebagai pendidikan dan melalui gerak dan harus dilaksanakan dengan cara-cara yang tepat agar memiliki makna bagi anak. Pendidikan jasmani merupakan program pembelajaran yang memberikan perhatian yang proporsional dan memadai pada domain-domain pembelajaran, yaitu psikomotor, kognitif, dan afektif.
Bucher, (1979). Mengemukakan pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari suatu proses pendidikan secara keseluruhan, adalah proses pendidikan melalui kegiatan fisik yang dipilih untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan organik, neuromuskuler, interperatif, sosial, dan emosional
Ateng (1993) mengemukakan; pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui berbagai kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional.
Definisi Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotorik, kognitif, dan afektif setiap siswa.

2. Pengertian Olahraga
Makna olahraga menurut ensiklopedia Indonesia adalah gerak badan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih yang merupakan regu atau rombongan. Sedangkan dalam Webster’s New Collegiate Dictonary (1980) yaitu ikut serta dalam aktivitas fisik untuk mendapatkan kesenangan, dan aktivitas khusus seperti berburu atau dalam olahraga pertandingan (athletic games di Amerika Serikat)
Menurut Cholik Mutohir olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.

Untuk penjelasan pengertian olahraga menurut Edward (1973) olahraga harus bergerak dari konsep bermain, games, dan sport. Ruang lingkup bermain mempunyai karakteristik antara lain; a. Terpisah dari rutinitas, b. Bebas, c. Tidak produktif, d. Menggunakan peraturan yang tidak baku. Ruang lingkup pada games mempunyai karakteristik; a. ada kompetisi, b. hasil ditentukan oleh keterampilan fisik, strategi, kesempatan. Sedangkan ruang lingkup sport; permainan yang dilembagakan.

3. Hubungan Pendidikan Jasmani dengan Bermain dan Olahraga
Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.
Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.
Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.
Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.

Minggu, 17 Juli 2011

FATIGUE DAN BOREDOM DALAM OLAHRAGA

PENGERTIAN FATIGUE dan BOREDOM

1. Fatigue (Kelelahan)

Lelah (fatigue), istilah lelah atau kelelahan biasanya dihubungkan dengan lemahnya atau menghilangnya kemampuan orang untuk mengadakan reaksi terhadap rangsang.

Demikian pula muscular fatigue atau lelah otot adalah lemahnya atau menghilangnya kemampuan otot untuk mengadakan reaksi terhadap rangsang.

Kelelahan dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu lelah mental dan lelah fisik. Lelah mental biasanya disebabkan karena kerja mental, sedangkan lelah fisik karena pekerjaan otot.

Akan tetapi dalam olahraga, fatigue biasanya adalah gabungan dari lelah otot dan lelah mental, sehingga dapat dikatakan bahwa kelelahan dalam olahraga adalah suatu mind-body unity. Fatigue juga timbul karena dalam tubuh kita terjadi perubahan-perubahan mental fisik (psichophysical) yang disebabkan oleh aktivitas-aktivitas yang kita lakukan, sehingga dengan demikian kapasitas untuk melakukan aktivitas-aktivitas selanjutnya berkurang atau hilang sama sekali. Perubahan-perubahan tersebut biasanya terjadi sewaktu aktivitas itu sedang berlangsung. Akan tetapi, aspek-aspek mental-emosional yang dialami atlet sebelum aktivitas tersebut, dan sering dirasakan sebagai gangguan oleh atlet, dapat pula menimbulkan rasa lelah pada atlet.

Lelah fisik, yaitu lelah dalam pusat-pusat motorik, dapat mempengaruhi pusat-pusat sensoris kita; dan pengaruhnya adalah, pekerjaan otot yang berat akan mempengaruhi pusat saraf kita, sedang sebaliknya pekerjaan yang cukup (moderat) akan dapat menaikkan tugas dari pusat saraf. Oleh karena itu, latihan-latihan fisik di sekolah-sekolah sebaiknya diberikan sedemikian rupa sehingga jangan mengganggu pelajaran-pelajaran intelektual di kelas. Ativitas-aktivitas selama sekolah berlangsung sebaiknya jangan terlalu berat dan memakan waktu terlalu lama. Akan tetapi sebaliknya, jangan pula terlalu ringan agar kerja fisik tersebut menjadi rangsang untuk kapasitas keraja mental atau intelektual. Aktivitas-aktivitas berat sebaiknya dilakukan diluar jam sekolah, misalnya di sore hari setelah tidak ada kelas lagi.

2. Boredom (Kebosanan/ Rasa bosan)

Kalau seseorang merasa terpaksa untuk mengikuti atau melakukan pekerjaan fisik, mental, atau sosial tanpa tujuan yang jelas, sehingga tidak bisa menggugah perhatiannya atau interess-nya, maka dia biasanya merasa sukar untuk melanjutkan pekerjaannya atau aktivitasnya. Perasaan ini biasanya disebut boredom (bosan, jemu, ogah).

Boredom akan mempercepat datangnya lelah, karena orang itu merasa capek melakukan aktivitas yang membosankan itu, dan karena nafsu untuk meneruskan pekerjaan menjadi hilang.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perasaan lelah demikian, yang timbulnya karena kurangnya pehatian dan minat dalam melakukan pekerjaan itu, tidaklah dapat disebut sebagai lelah yang sebenarnya atau true fatigue. Sebab apabila orang itu digugah lagi perhatiannya dalam pekerjaaannya, tanda-tanda lelah itu akan menghilang. Karena itu fatigue yang didasarkan pada boredom ini disebut lelah semu/ palsu atau pseudo-fatigue.

Melalui ilustrasi dibawah ini mungkin gambaran pseudo dan true fatigue akan bisa menjadi lebih jelas. Didalam suatu ruangan kantor bekerja empat orang pegawai pria. Pada permulaan bekerja dikantor itu, mereka merupakan pegawai-pegawai yang bersemangat. Akan tetapi pekerjaan rutin sehari-harinya lama kelamaan tidak dapat lagi mengggah perhatian mereka, oleh karena itu mereka merasa cepat lelah dan bosan, mengherankan perasaan demikian segera hilang setelah majikan mereka yang cerdik menempatkan seorang pegawai yang cantik di ruang itu. Malah mereka seringkaali masuk kantor terlalu pagi dan pulang terlalu sore. Kita lihat disini bahwa rasa lelah mereka adalah rasa lelah palsu. Boredom dapat pula dikurangi atau dihindari apabila pekerjaan itu dibuat menarik sehingga menimbulkan perhatian, rangsangan, motivasi, dan interesse bagi yang melakukan pekerjaan tersebut. Demikian pula, boredom dapat dikurangi apabila pada waktu sedang bekerja, orang memikirkan sesuatu yang menarik atau yang menyenangkan, misalkan msuik yang menyegarkan.

Suasana boredom ini bisa juga terjadi di olahraga. Kadang-kadang terjadi, bahwa atlet-atlet yang kurang prestasinya, atau sebaliknya atlet yang berpotensi sekalipun, tiba-tiba meninggalkan olahraganya tanpa alasan-alasan yang jelas. Malah ada yang sama sekali tidak mau lagi melakukan cabang olahraganya atau cabang olahraga lainnya. Mengapa ?

Drop out ini biasanya disebabkan karena boredom, dan alasan-alasan yang dikemukakan umumnya adalah :

1. Tidak memperoleh kesenangan lagi dalam cabang olahraga itu.

2. Latihan-latihan yang rutin-monoton.

3. Merasa terlalu sering mendapat teguran-teguran, baik dari pelatih maupun dari teman-teman seregunya.

4. Tidak pernah dimasukkan dalam tim inti, sehingga tidak pernah diberi kesempatan bertanding, melawat ke lain kota, dan sebagainya.

5. Tidak mampu menghadapi stress-stress pertandingan.

6. Tidak mendapat dukungan (fisik maupun mental) dari pelatih atau orang tua.

7. Hubungan yang tidak menyenangkan dengan pelatih.

8. Merasa tidak ada tantangan dalam latihan; atau kehilangan tantangan atau dorongan.

9. Terlalu sering mengalami situasi-situasi yang kurang menyenangkan.

Biasanya kemungkinan peluang untuk membikin mereka tergugah lagi dalam olahraga, atau mengatasi rasa boredom, sangat kecil. Akan tetapi, meskipun demikian usaha-usaha untuk menggugah minat pada mereka harus tetap dilakukan. Langkah-langkah yang bisa dilakukan atlet adalah :

1. Melupakan untuk sementara segala sesuatu yang berhubungan dengan olahraga.

2. Melakukan olahraga, pada cabang olahraga lainnya yang kira-kira memberikan kesenangan dan kepuasan.

3. Melakukan kegiatan rekreatif, pergi ke gunung, fartlek didaerah yang pemandangannya menyejukkan, piknik, dan sebagainya.

4. Kalau boredom belum “parah” dan baru mulai nampak gejala-gejalanya turunkan intensitas latihan, ciptakan suasana gembira dalam latihan, hindari tes-tes dan pertandingan-pertandingan.

5. Minta nasehat kepada ahli psikiatri.

Minggu, 10 Juli 2011

KESALAHAN (KITA) ORANG TUA SAAT MENDISIPLINKAN ANAK


Mengajarkan disiplin pada anak bukanlah hal yang mudah. Salah bertindak justru akan membuat anak bersikap lebih buruk. Untuk itu, para orang tua wajib menghindari kesalahan saat melakukannya.

Berikut beberapa daftar kesalahan yang umum dilakukan orang tua saat mengajarkan disiplin pada anak, seperti dikutip dari Helium.


1. Mendisiplinkan anak saat marah. Komunikasi dalam keadaan emosi yang tidak stabil tak akan pernah efektif. Lebih lanjut, yang terdengar oleh anak Anda hanyalah teriakan yang sifatnya meyakinkan. Anak-anak tak akan bisa mengambil ilmu dari sebuah kemarahan. Sebaiknya tunggu sampai emosi Anda stabil. Jika memang harus ada hukuman yang diberlakukan, hukuman yang Anda pilih pun bukan atas dasar kemarahan yang dirasakan, melainkan rasa sayang.

2. Jangan salah menghukum. Jika kedua anak Anda berseteru, yang menangis bukanlah selalu yang menjadi korban. Dengarkan keseluruhan cerita anak-anak. Tak selalu harus memberi hukuman, tapi jangan sampai anak merasa disalahkan atas sesuatu yang tidak ia perbuat.

3. Hukuman. Hukuman bukan digunakan untuk menyakiti, melainkan agar anak tak lagi mengulangi kesalahannya. Oleh karena itu, pastikan hukuman yang Anda berikan sesuai dan pantas.

4. Jangan biarkan orang lain mendisiplinkan anak Anda. Jika anak Anda melakukan kesalahan di depan orang lain, jangan pernah memberikan kesempatan orang itu untuk menghukum atau mendisiplinkan anak Anda. Komunikasi yang diterima anak akan sangat berbeda jika itu dilakukan oleh orang lain yang bukan orang tuanya. Kemungkinan paling fatal, anak Anda bisa trauma, dan mengalami kesulitan untuk terjun ke dunia sosial setelahnya.

Setiap orang tua pasti pernah melakukan kesalahan, tapi tak ada kata terlambat untuk meminimalisir kesalahan tersebut. Yang ada hanya kata menyesal mengenai apa yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita. Ketika mereka tidur, pandanglah mereka, betapa manisnya mereka, hanya kita saja yang terlalu memaksakan kehendak tanpa berfikir bahwa cara berfikir mereka masih anak-anak.......